<body><script type="text/javascript"> function setAttributeOnload(object, attribute, val) { if(window.addEventListener) { window.addEventListener('load', function(){ object[attribute] = val; }, false); } else { window.attachEvent('onload', function(){ object[attribute] = val; }); } } </script> <div id="navbar-iframe-container"></div> <script type="text/javascript" src="https://apis.google.com/js/plusone.js"></script> <script type="text/javascript"> gapi.load("gapi.iframes:gapi.iframes.style.bubble", function() { if (gapi.iframes && gapi.iframes.getContext) { gapi.iframes.getContext().openChild({ url: 'https://www.blogger.com/navbar.g?targetBlogID\x3d13691723\x26blogName\x3daryveron\x26publishMode\x3dPUBLISH_MODE_BLOGSPOT\x26navbarType\x3dBLUE\x26layoutType\x3dCLASSIC\x26searchRoot\x3dhttps://tyazmanians.blogspot.com/search\x26blogLocale\x3den_US\x26v\x3d2\x26homepageUrl\x3dhttp://tyazmanians.blogspot.com/\x26vt\x3d-7157851199588912654', where: document.getElementById("navbar-iframe-container"), id: "navbar-iframe" }); } }); </script>
      

Friday, August 05, 2005

25-35 Persen PTS di Jateng Kolaps

Surakarta, CyberNews. Sekitar 25-35 persen dari total perguruan tinggi swasta di Jawa Tengah, dalam lima tahun terakhir diperkirakan kolaps dan terancam mati. Namun menurut Ketua Asosiasi Perguruan Tinggi Swasta Indonesia (Aptisi) Jateng Prof Dr HS Brodjo Sudjono SH MS, angka pastinya tidak ada.
''Memang banyak yang kolaps, tapi angkatnya tak pernah ada. Sebab jika ada PTS yang mati, nampaknya Pemerintah hanya innalillahi saja. Nggak ada reaksi. Prosentase yang kolaps itu berkisar 25-35 persen. Jadi ada yang memang sudah mati, ada yang koma, dan ada yang masuk ICU,'' katanya, di sela-sela menghadiri pelantikan Rektor Universitas Tunas Pembangunan (UTP) Surakarta, Kamis (4/8).
Rektor baru UTP untuk periode 2005-2009 yang dilantik Ketua Yayasan Perguruan Tinggi Tunas Pembangunan (YPTTP) Drs H Soenarso di Kampus Pusat, kawasan Balekambang adalah Ir Joko Pratikto MT. Sebelumnya Joko menjabat rektor antarwaktu di kampus itu.
Secara tegas, Prof Brodjo mengemukakan, kematian PTS-PTS antara lain karena faktor tidak mendapat mahasiswa akibat banyaknya program yang dibuka perguruan tinggi negeri. Akibatnya, meski tidak masuk melalui Seleksi Penerimaan Mahasiswa Baru (SPMB) Nasional, para calon mahasiswa itu bisa tetap masuk lewat program lain, seperti nonreguler.
''Wong sudah 25-35 Persen PTS di Jateng Kolaps lulus SPMB Nasional kok masih ditampung di program-program baru, ada swadana, ekstensi, dan lainnya. Padahal itu bom waktu, nantinya pasti akan terjadi konflik internal di antara para pengelola PTN itu. Sebab, perguruan tinggi di Indonesia tidak dikonstruksi untuk menerima mahasiswa sangat banyak,'' tandasnya.
PTS ruko
Sementara itu, Koordinator Kopertis Wilayah VI Jateng Prof Drs Mustafid MEng PhD berharap, PTS-PTS mempunyai keunggulan masing-masing, sehingga nantinya siapa yang tidak diterima di PTN akan tertarik masuk ke PTS itu. ''PTS di Jateng itu ada yang kecil, sedang berkembang, dan ada yang sudah mapan yang kualitasnya tak kalah dengan PTN. Jumlah PTS di Jateng ada 209, terdiri atas universitas, akademik, sekolah tinggi. Memang ada beberapa yang dikategorikan cukup baik,'' katanya.
Disinggung tentang PTS-PTS yang menggunakan ruko sebagai kampus, dia menyatakan, kopertis sudah mulai melakukan pembenahan. Yakni tidak memperbolehkan PTS-PTS yang menggunakan ruko, dan harus segera membangun kampus sesuai rencana pendiriannya. ''Kalau di ruko, jelas kualitasnya tidak bisa diharapkan,'' tandasnya.
Dia menambahkan, calon mahasiswa sebenarnya cukup banyak. Tapi karena kondisi ekonomi masyarakat sekarang belum sepenuhnya membaik, maka dia berharap agar PTS bisa beri gambaran, setelah lulus kira-kira nanti mahasiswanya mau bekerja ke mana. Sehingga ada peningkatan proses belajar mengajar yang bagus dan berkualitas.( setyo wiyono/cn05 )
dikutip dari: Suara merdeka

0 Comments:

Post a Comment

<< Home