<body><script type="text/javascript"> function setAttributeOnload(object, attribute, val) { if(window.addEventListener) { window.addEventListener('load', function(){ object[attribute] = val; }, false); } else { window.attachEvent('onload', function(){ object[attribute] = val; }); } } </script> <div id="navbar-iframe-container"></div> <script type="text/javascript" src="https://apis.google.com/js/plusone.js"></script> <script type="text/javascript"> gapi.load("gapi.iframes:gapi.iframes.style.bubble", function() { if (gapi.iframes && gapi.iframes.getContext) { gapi.iframes.getContext().openChild({ url: 'https://www.blogger.com/navbar.g?targetBlogID\x3d13691723\x26blogName\x3daryveron\x26publishMode\x3dPUBLISH_MODE_BLOGSPOT\x26navbarType\x3dBLUE\x26layoutType\x3dCLASSIC\x26searchRoot\x3dhttp://tyazmanians.blogspot.com/search\x26blogLocale\x3den_US\x26v\x3d2\x26homepageUrl\x3dhttp://tyazmanians.blogspot.com/\x26vt\x3d8987670759279455026', where: document.getElementById("navbar-iframe-container"), id: "navbar-iframe" }); } }); </script>
      

Tuesday, August 02, 2005

Belanda Dituntut Minta Maaf kepada Indonesia

Jakarta, CyberNews. Pemerintah Belanda dituntut untuk minta maaf kepada bangsa Indonesia atas penjajahan, perbudakan, pelanggaran HAM berat dan kejahatan atas kemanusiaan serta mengakui kemerdekaan RI 17 Agustus 1945.
Petisi ini disampaikan Komite Utang Kehormatan Belanda dalam seminar yang dihadiri sejumlah tokoh Angkatan 45 di Jakarta, Senin, yang juga dihadiri sejumlah anggota DPR dan Ketua Komisi I DPR, Theo L. Sambuaga.
Ketua Komite Utang Kehormatan Belanda, Batara R. Hutagalung, mengatakan, pada peringatan kemerdekaan RI ke-60 mendatang, pelecehan dan penghinaan yang dilakukan Belanda terhadap bangsa Indonesia harus diakhiri.
"Mengapa Belanda sampai sekarang tetap tidak mau mengakui kemerdekaan RI 17 Agustus 1945, hal ini merupakan pelecehan terhadap kedaulatan RI dan penghinaan terhadap martabat sebagai bangsa yang merdeka dan berdaulat," tegasnya.
Padahal, Belanda sendiri telah menuntut Jepang untuk minta maaf atas korban Perang Pasifik dari 1942-1945, dan PM Jepang Junichiro Koizumi 2 Mei lalu secara resmi telah meminta maaf kepada rakyat Belanda.
Hingga saat ini, Belanda tidak pernah meminta maaf kepada bangsa Indonesia atas penjajahan serta berbagai pelanggaran HAM berat yang telah mereka lakukan, dan bahkan sama sekali tidak pernah merasa bersalah.
Sepanjang tahun 2002, sejak 15 Maret 2002, Belanda merayakan 400 tahun berdirinya VOC secara besar-besaran untuk mengenang `zaman keemasan Belanda.` Itu berarti, sepanjang 2002, mereka berpesta di atas kemiskinan, kesengsaraan dan kematian ratusan ribu rakyat Indonesia.
"Ini jelas merupakan penghinaan besar terhadap martabat bangsa Indonesia," tegasnya.
Ketua Komisi I DPR, Theo L. Sambuaga, dalam seminar ini sependapat, cukup alasan bagi bangsa Indonesia untuk mendesak agar pemerintah Belanda mengakui proklamasi kemerdekaan RI 17 Agustus 1945.
Ketegasan sikap pemerintah Belanda ini dinilai penting agar sebagian kecil masyarakatnya, terutama para veteran KNIL yang masih percaya terhadap penjajahan Belanda atas Indonesia, tidak mendapat angin untuk mengkampanyekan pengingkaran Belanda atas RI.
Sikap pemerintah Belanda yang menghindar menghadiri peringatan kemerdekaan RI, menurutnya juga harus diakhiri, kalau memang tidak ada agenda tersembunyi di belakangnya.
"Pemerintah Belanda juga harus memenuhi tututan rakyat Indonesia, agar mereka menyatakan penyesalan dan permintaan maaf secara resmi dan terbuka atas berbagai kekerasan, pelanggaran hukum dan kejahatan kemanusiaan yang dilakukan khususnya selama periode sesudah proklamasi kemerdekaan sampai dengan pengakuan kedaulatan 1949."
Ketua Komisi I DPR berpendapat, tuntutan rakyat Indonesia ini tidak berlebihan dan mengada-ada, sehingga ada keharusan sejarah pemerintah Belanda memenuhinmya.
Adalah cukup bijaksana apabila pemerintah Belanda menggunakan momentum 60 tahun peringatan proklamasi kemerdekaan RI untuk menyatakan secara terbuka rasa penyelesan dan permintaan maafnya kepada rakyat Indonesia, kata Theo.

dikutip dari: Suara merdeka

0 Comments:

Post a Comment

<< Home